Seorang dari suku Asmat tengah membuat ukiran kayu (sumber: Wikipedia)
Masyarakat Asmat meyakini bahwa mereka adalah keturunan dewa yang turun dari dunia gaib yang berada di seberang laut di belakang ufuk, tempat matahari terbenam. Dalam keyakinan masyarakat Asmat, dewa nenek-moyang itu dulu mendarat di bumi di suatu tempat yang jauh di pegunungan, yang kemudian turun ke hilir hingga tiba di tempat yang kini didiami oleh masyarakat Asmat hilir.
Lingkungan alam telah menjadi faktor utama yang mempengaruhi budaya masyarakat Asmat, sebagai cara hidup yang sangat bergantung pada kekayaan alam yang terdapat di hutan, sungai, dan laut. Bahan makanan pokok masyarakat Asmat adalah pati dari sagu (Metroxylon sagu), ikan, hewan buruan dari hutan, dan bahan lainnya yang dikumpulkan dari hutan dan perairan. Bahan untuk membuat perahu, tempat tinggal, dan ukiran kayu juga semua dikumpulkan dari lingkungan sekitar. Budaya masyarakat Asmat sangat erat terkait dengan keanekaragaman hayati di lingkungan alam tempat mereka hidup.
Tempat tinggal masyarakat Asmat dibangun minimal dua meter di atas tanah, menggunakan tiang-tiang kayu. Di beberapa daerah pedalaman, masyarakat Asmat bahkan tinggal di rumah pohon, kadang-kadang setinggi 25 meter dari tanah.
Bahasa Asmat termasuk dalam keluarga bahasa Papua yang disebut Asmat-Kamoro. Bahasa lisan Asmat didokumentasikan dalam bentuk bahasa tulisan oleh para misionaris.
Pola kekerabatan masyarakat Asmat bersifat patrilineal. Namun dalam pola tempat seorang lelaki tinggal bisa saja ikut dalam kelompok batih istrinya. Keluarga-keluarga batih itu tergabung lagi dalam kelompok keluarga luas patrilineal hingga kepada cikal bakal yang pertama beberapa tingkat ke atas Kelompok keluarga luas ini yang disebut yeu. Beberapa yeu dapat membentuk federasi desa dan mendiami rumah komunal federasi yang juga disebut yeu.(http://titikdidih.blogspot.com)